Keinginan berprestasi adalah salah satu indikator dari kebutuhan akan harga diri (esteem needs) yang merupakan wujud dari kebutuhan manusia untuk menjadi yang terbaik. Dalam konteks institusi yang merupakan tempat berkumpulanya beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu hal tersebut di atas juga berlaku, dengan kata lain untuk menjadi institusi yang terbaik perlu ditopang oleh personil institusi yang mempunyai semangat berprestasi yang tinggi.

Untuk menjadi institusi terbaik diperlukan personil institusi yang mempunyai semangat berprestasi dalam bekerja yang tinggi. Patut menjadi pertanyaan dan refleksi diri kita masing-masing adalah apakah kita sudah mempunyai semangat untuk berprestasi dalam bekerja? Apa wujudnya?

Wujud partisipasi aktif personil institusi untuk mewujudkan institusi terbaik salah satunya adalah dengan menerapkan konsep pelayanan prima dalam bekerja. Apa itu pelayanan prima? Serta bagaimana implementasinya?.

Di bawah ini dijelaskan dalam sebuah model yang disarikan dari buku Service With Emotional Quotient karangan Dr. Patricia Patton bagaimana pelayanan prima dapat mendukung keinginan institusi menjadi institusi terbaik .

111a

Pelayanan prima sering disebut juga dengan pelayanan sepenuh hati, artinya seorang personil institusi dalam melakukan pelayanan tidak hanya sekedar melayani dengan sederatan instruksi kerja melainkan juga melayani dengan penuh kesadaran dan sentuhan kehidupan (nguwongke) terhadap apa yang dilayani. Untuk mewujudkan pelayanan prima seperti yang digambarkan pada gambar di atas dimulai dari bagaimana paradigma personil institusi terhadap ketiga aspek, yaitu bagaimana paradigma personil institusi terhadap diri mereka sendiri, bagaimana paradigma terhadap orang lain, dan bagaimana paradigma terhadap pekerjaan yang dilakukan..

Paradigma pertama berkaitan dengan bagaimana seorang personil institusi menghargai dirinya sendiri sebagai individu yang istimewa, mampu menghargai kemampuan/keterampilan yang dimilikinya, mampu menjaga penampilannya sehingga terpancar rasa percaya diri dalam diri personil institusi dalam melakukan pelayanan. Paradigma kedua berhubungan dengan sejauh mana personil institusi menghargai orang lain, menghargai eksistensi, sumbangsih mereka tanpa membedakan pangkat dan derajat. Sebagai contoh tipe hubungan staf administrasi dengan orang lain adalah pada saat melayani mahasiswa, pada saat melayani dosen, pada saat melayani pimpinan, pada saat bekerjasama dengan sesama rekan kerja, dan paradigma terakhir adalah bagaimana personil institusi menghargai pekerjaan yang dia lakukan. Kadar penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan menentukan tingkat kualitas pelayanan yang diberikan.

Ketiga paradigma di atas merupakan pondasi untuk memunculkan sikap-sikap yang diperlukan untuk mencapai suatu prestasi, yaitu sikap penuh gairah, progresif, proaktif, dan positive. Sikap bergairah dalam melaksanakan aktifitas akan memunculkan rasa senang dalam memberikan pelayanan, sikap progresif akan memunculkan cara-cara baru dalam melakukan pelayanan, sikap proaktif menumbuhkan sikap “bekerja lebih dari sekedar apa yang seharusnya” pada saat melakukan pelayanan, sedangkan sikap positif menumbuhkan sikap pantang menyerah dan berfikiran positif (terbuka/khusnudzon) dalam melakukan pelayanan.

Jika ketiga paradigma tersebut di atas terbagun dengan kokoh, maka sikap yang tumbuh di atasnya juga akan kuat dan akhirnya prestasi kerja akan meliputi personil institusi yang memahami dan mempraktekan prinsip pelayanan prima. Bentuk riil dalam mewujudkan pelayanan prima di institusi adalah dengan diadakannya training yang berkaitan dengan aspek-aspek pelayanan prima, seperti membangun team work, good receptionist, dan lain sebagainya. Sudahkah kita melakukan pelayanan prima selama kita bekerja